Syair Malam
Di tepi pantai ini
Aku menatap langit
Cahaya bintang kemilauan
Berkedip girang menyambut angin malam
Hempasan ombak yang berlari
Mengejar jejak langkah kaki
Dan meremas karang terjal
Buih memapah pasir yang berserakan
Kehidupan yang berjalan terus
Tanpa disangka merengkuh di tepian pantai ini
Bersama angin malam dingin
Dalam cerita yang ditulis pada daun lontar
Add comment July 31, 2009
Pertemuan ini
Hingga masih kita hidup
Dengan berpeluk kita menangis
Mengiringi hujan deras malam ini
Waktu yg terus berputar mempertemukan kita
Disudut sisi utara kota tua ini
Dua puluh tiga tahun yang lalu saat kita berpisah
Teringat saat kita menangis bersama
Sekarang menoreh nostalgia
Meninggalkan aku dengan tanpa perasaan
Tanpa kata-kata engkau pergi ke kota seberang
Hayal dalam keajabaian pertemuan ini
Membuka catatan baru perjalanan hidupku
Walau engkau telah berubah
Tak kusangka engkau kembali dari ujung dunia
Bersama kita menatap bulan
Malam dingin ini menjadi syahdu
Pertemuan telah berujung dan daun-daun pun hijau kembali
Mengingatkan cerita lama yang tertatah dalam daun lontar
Dalam gerbong kereta malam
Kita berdua mengejar nikmat cinta
Add comment May 29, 2009
Dunia Gila
Kesemrawutan dunia
Harga sembako mencekik leher
Tak peduli orang-orang antre minyak tanah
Mahasiswa berdemo dalam nyanyian riang politikus
Sembilu rakyat mengais sampah saat birokrat berbagi doorprize
Dan pengusaha menikmati ceceran upah buruh
Orang-orang tidak menyadari pijakan kakinya yang telah hilang
Terlupakan oleh nafsu dalam hasrat yang nista
Antrean manusia semakin panjang dan menghiba
Tanpa takut diterjang banjir bandang dan gejolak gempa bumi
Disisi gedung api membakar nyawa bersamaan meletusnya gunung Merapi
Mendadak angin puting beliung menyeruduk atap
Dalam kekalutan tiada berdoa
Sisa batin tak kuasa meneteskan air mata
Bercampur peluh saat di tempat ibadah telah sesak dengan orang
Padahal mungkin ada bom akan meledak di ujung jalan sana
Atau air bah tsunami yang menyapu kota
Tapi kita belum sadar dalam kesedihan yang panjang ini
Add comment April 2, 2009
Kapankah ada jawabnya
Perjalanan sunyi ini
Tak ada cerita yang didengar
Hanya tampak tanah kering dan bebatuan
Dalam saksi kereta api yang melaju kencang
Aku berpikir hendak kutuang dalam surat
Mungkin bercerita pada kepedihan
Padahal susah senang ada batasnya
Tak lekang oleh waktu
Dalam bisingan deru kereta api
Mungkin ada jawab yang terlupa
Seandainya ada kamu disampingku saat ini
Pasti matahari akan mengatakannya
Menemukan jawab dalam gumpalan awan
Karena Tuhan mungkin enggan
Manusia terlalu lama menanti
Dalam luapan debu yang tidak terkoyak
Kalau ada kamu di depanku
Butiran kasih menyeruak kalbu
Dan mengijinkan aku untuk berfirasat.
Menemukan mimpi yang selama ini aku cari
Add comment March 15, 2009
Cerita Napak Tilas
Napak tilasku telah kujajal
Dasar dari goresan lontar tua
Yang telah aku semayamkan 7 tahun terakhir ini
Wasiat dari Mbah yang beruban
Hampir telupa oleh jerat waktu
Kulakoni setiap malam dalam angin dingin di bukit ini
Sampai fajar menyeruak di balik dinding awan
Aku menapak tilas kehidupan Mbah di masa lalu
Menciumi kaki Pujangga meminta petunjuk
Dalam mantra-mantra dan upawasa
Setelahnya sinar silau menghampiri dinujumku
Bercerita tentang wayang-wayang
Menjadi tutur dalam rangkaian kata
Bertajuk pada lelakon kehidupan
Separuh lontar telah kususun
Air mata membasahi pipiku
Telah membasahi jiwa-jiwa yang pernah hampa
Dari kenangan hidup di masa lampau
Memberi nafas pada kehidupanku sekarang
Hasil karma masa lalu
Menaburi setetes waktu pada jalan hidup ini.
Add comment January 21, 2009
Ke Kotamu aku kembali
Aku berjalan menuju kotamu..
Dihampiri oleh gerimis hujan
Di bulan November ini
Malam semakin larut dengan dinginnya
Menyatu meninggalkan batas kota yang kesepian
Kata-kata tidak pernah mengucapkan selamat tinggal
Dalam gelap hanya terdengar rintihan
Menyesatkan para gadis malam
Dalam sedih kamu katakan namamu
Tapi aku tak perduli
Hasratku menggapai asa
Dalam remangnya cahaya bulan
Dan hujan pun berhenti
Aku tergeletak dalam lamunan cinta
Sampai angin mengais habis sisa-sisa tadi
Menorehkan kata-kata puitis dalam kertas
Yang mungkin tidak mempunyai arti
Tapi aku yakin akan kembali ke kotamu….
1 comment December 17, 2008
Malam yang singkat
Seorang lelaki datang kepadanya
Dalam gelap malam yang menyusuri jalan sesunyi ini
Menemukan gadisnya
Memberikan mimpi indah seorang anak gadis
Dalam remang malam
Dari kerinduan yang mendalam
Si Gadis menggeliat
Dalam debar jantung yg bergelora
Hasrat serasa tak mau mati
Lelaki itu pun menyapa
Menghampiri jiwa yg sedang kering
Bibirnya bergetar dalam hasrat yg telah lama terpendam
Perlahan tapi pasti lenyaplah dari busana
Lelaki itu mengecup keningnya
Mengelus rambut
Lalu bergumul dalam gelora cinta
Lidah yang menjalar menyusuri lekak lekuk tubuhnya
Dan tangan yang meraba dalam untaian kata-kata
Si gadis pun mencapai puncaknya
Mereguk keindahan dalam malam sepi yang dingin
Add comment December 17, 2008
Keagungan Cinta
Atas Nama cinta
Aku tidak akan berbagi
Biarlah kurangkaikan
Cerita-cerita indah asmara kita
Kuatkan hati
Yang telah tertambat pada sebuah asa
Ingat kepada anugrah alam
Keindahan dan kekuatan hati
Berpegang pada sebuah janji suci
Atas nama cinta
Aku selalu setia
Pada janji yang telah terucap
Tertoreh dalam hati yang paling dalam
Angin tak akan merontokkan keindahannya
Dawai gitar tidak akan putus melumpuhkannya
Batu pun tidak akan terbelah
Demi kekuatan cinta yang agung
Cinta yg akan terkenang sepanjang jaman
Add comment November 18, 2008
Langit Meremas Alam
Angin dingin menyergap alam
Menyapu pepohonan di jalan setapak ini
Berpacu dengan dentang lonceng di kejauhan
Mengingatkan kejadian pada masa lampau
Kala itu langit turun di bibir muka bumi
Menyapu debu dan kerikil-kerikil di bumi
Melenyapkan seonggok mayat yang tinggal tulang
Meremas alam saja jadinya
Pandangan berpose pada cermin di dinding tua…
Meluluh lantakkan bayangan seraut wajah
Saat itu juga sejarah tertoreh pada selembar daun lontar
yang hingga kini entah hilang kemana
Langit tiada henti dan tidak berpaling
Selalu menutupi bumi apa adanya
Tetapi tetap saja bintang memperlihatkan indahnya
Memang sejak dulu langit kalah oleh kilau bintang
Mungkin sampai akhir jaman langit akan meremas alam..
menutupi bumi dengan segala isinya..
sampai di penghujung akhir jagat ini berhenti berdetak…
Add comment September 23, 2008
Secangkir Kopi panas
Pada sore yang cerah
Mentari masih bersinar di ufuk barat
Aku duduk memandang langit
Ditemani secangkir kopi hitam
Cahaya senja yang selalu kurindukan
Menempa bebatuan di pingir jalan
Membuat garis bumi yang menapak langit
Waktu terus berlalu
Cahaya bulan terpancar
Aku reguk kenikmatan kopi
Melelehkan rasa serak dalam tenggorokan
Seperti air yang meluluhkan bebatuan sungai
Kopi mengalirkan kehangatan
Dari udara dingin yang mulai menusuk
Gairah bangkit yang akan tertulis dalam daun lontar
Mengingatkan pada kenangan lama…
Add comment August 27, 2008
